Feb 20, 2012

Inspirasi: 99 Cahaya di Langit Eropa

Saya ini bukan pembaca buku yang baik. Buku yang saya tamatkan hingga saat ini mungkin tidak lebih banyak dari jumlah SKS yang saya ambil ketika kuliah. Saya lebih suka membaca sesuatu yang singkat, seperti artikel atau blog. Itu pun pilih-pilih. Kalau membaca buku? Ah, rasanya seperti kerja keras. Kerja pintar itu lebih baik (pembenaran.com, sugguh, jangan ditiru!).

Walaupun terhitung malas membaca, untungnya lingkungan saya diisi oleh orang-orang yang sangat sangat sangat (ya, sampai tiga kali) suka membaca. Kesenjangan sosial memang, tapi penuh anugerah buat saya yang kekurangan ini.

Alih-alih ikut membaca buku, saya lebih suka meminta orang-orang di sekitar saya untuk menceritakan buku-buku yang mereka baca. Waktu SMA misalnya. Presentasi saya di mata pelajaran Sejarah beberapa kali mendapat nilai yang tertinggi di kelas hanya dengan bekal cerita dari Papa yang 'maniak' sejarah.

Pengetahuan tentang novel-novel terbaru pun banyak saya dapat dari sahabat saya, Yasmin, yang sampai sekarang masih kena saya kerjai. Semoga dia gak baca postingan ini, Tuhan. Kalau dia baca pun, tolong jangan buat dia berubah pikiran. Betul kata orang, membaca itu tidak hanya membuka wawasan, tetapi juga membuka pergaulan. Novel-novel yang diceritakan Yasmin sering menjadi bahan pembuka obrolan saya dengan orang-orang baru. Pencair suasana yang sangat baik.

Dulu waktu baru-baru dekat, Aldy juga tidak kalah baik. Buku yang diceritakan pun sangat bervariasi, dari komik (entah apa-apa) sampai majalah jeans berbahasa Jepang, dari novel yang ceritanya sangat ringan sampai buku yang mengulas tentang brand di seluruh dunia. Sayang, sekarang yang bersangkutan sudah sedikit lebih galak. Beberapa buku masih mau dia ceritakan, tapi sebagian besar saya disuruh membaca sendiri. Menurut dia membaca itu hanya perlu latihan, dan nampaknya, tanpa diminta, Aldy resmi menjadi pelatih saya. Kalau menggunakan bahasa Aldy dan teman-teman kantornya, ini sangat 'huuuuuuft', if you know what I mean.

..

Dua hari yang lalu saya pergi ke Gramedia untuk menggunakan hadiah voucher yang saya dapat dari acara Perempuan Inspiratif NOVA. Sepulangnya, saya berhasil mengantongi satu majalah dan dua buku; majalah SWA edisi 16 - 29 Feb 2012 yang ada cerita tentang Wangsa Jelita di dalamnya *iklan*, satu buku yang mendapat rating 4 bintang di amazon.com berjudul "Brandwashed" karya seorang Brand Futurist, Martin Lindstrom, dan satu buku novel berjudul "99 Cahaya di Langit Eropa" karya Hanum Salsabiela Rais, putri dari seseorang yang sempat saya jagokan untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Buku yang terakhir ini saya beli berdasarkan saran sahabat saya, Gusti.

Kemarin saya putuskan untuk membaca satu buku. Pilihan jatuh ke 99 Cahaya di Langit Eropa karena di dalamnya ada cerita tentang Vienna dan Paris, dua kota di Eropa yang sempat saya jelajahi dalam satu tahun kemarin. Seperti biasa, yang pertama saya lakukan adalah melihat jumlah halaman dan memperkirakan berapa hari/minggu yang saya butuhkan untuk menamatkan buku tersebut.

392.
Saya langsung lapor ke 'si pelatih'. Yah, mungkin 4 kali hari Minggu.

..

"..hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Makna sebuah perjalanan harus lebih besar dari itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan"

Persis sesuai harapan, buku ini berhasil membawa kembali ingatan ketika saya berkunjung ke Vienna dan Paris. Beberapa bab pertama menceritakan pengalaman penulis bersama sahabatnya menjelajahi kota yang terkenal dengan 'Sacher Torte' itu. Berkali-kali saya bersyukur karena bisa membayangkan dengan jelas beberapa tempat yang disebutkan penulis, termasuk ketika penulis menggambarkan indahnya sungai Danube, gemerlapnya kota Paris yang ia datangi bersama suami, dan megahnya Louvre yang ia kunjungi bersama Marion, cendikiawan Perancis yang juga seorang mualaf.

Buku ini sarat nuansa Islami tetapi ditulis dengan cara yang sangat menarik dan tidak berlebihan. Penuh ilmu tetapi juga ringan.

Seperti yang dituliskan oleh penulis,

"Pada akhirnya, di buku ini Anda akan menemukan bahwa Eropa tak sekedar Eiffel atau Colosseum. Lebih...sungguh lebih daripada itu"

betul, buku ini memberikan saya lebih dari sekedar pengembalian memori akan perjalanan di Eropa beberapa waktu yang lalu. Buku ini memberikan saya sudut pandang yang berbeda tentang Islam dan (jejak) kejayaannya di Eropa. Buku ini menambah rasa bangga saya sebagai seorang muslim dan (entah bagaimana) menginspirasi saya untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik. Kalau kata Aldy, "mending baca sendiri!" :)

Oiya, berapa lama waktu yang saya, si pemalas membaca ini, butuhkan untuk membaca habis buku 99 Cahaya di Langit Eropa? Tidak sampai 24 jam.

Ya, semenarik itu.