Sep 12, 2011

Arabian Meal: Pelajaran Berharga

Kurang lebih empat minggu yang lalu, saya diwawancara oleh sebuah majalah yang terdiri dari tiga huruf (belum terbit soalnya, jadi masih dirahasiakan =p). Itu bukan wawancara saya yang pertama sehingga beberapa pertanyaan sudah pernah saya dengar sebelumnya, sedangkan beberapa pertanyaan lain saya bisa bilang cukup baru. Ketika itu saya sedang di Singapore untuk menghadiri final Project Inspire, sehingga wawancara dilakukan via email.

Setelah beberapa kali menunda janji untuk membalas email, akhirnya saya mampu juga menjawab semua pertanyaan dan mengirimkan email ini.

Halo Mbak.
Mohon maaf atas keterlambatan menjawab emailnya. Semoga tidak terlalu terlambat.

Saya lampirkan jawaban dan CV saya. Jika ada yang perlu saya lengkapi, mohon dikabari ya. InshaAllah dua hari ke depan saya bisa membalas email dengan lebih cepat.

Selamat berakhir pekan.

Nadya Saib


Setelah beberapa kali berbalas email, bertukar nomor telefon untuk janjian foto dengan seorang fotografer, sang jurnalis pun mengirimkan email yang menyatakan bahwa ada data yang kurang. Kembali saya menerima beberapa pertanyaan yang salah satunya adalah sebagai berikut:

Apakah sempat mengalami kegagalan? Seperti apa? Bagaimana mengatasinya?


Biasanya saya cukup lancar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan, tapi tidak untuk yang satu ini.

..

Di akhir tahun 2008, saya dan dua sahabat, Fitria dan Amirah, memutuskan untuk memulai sebuah bisnis. Entah dapat wangsit dari mana, ide memulai sebuah bisnis ini berubah menjadi memulai DUA buah bisnis. Yang pertama, tentu berkaitan dengan hal yang sudah menjadi impian saya sejak lama, kami melahirkan Wangsa Jelita. Yang kedua, yang menjadi hobi saya (apalagi kalau bukan membahagiakan perut), berhubungan dengan makanan, kami melahirkan Arabian Meal.

Wangsa Jelita akan memasuki tahun ketiga Oktober ini dan sedang tumbuh lucu-lucunya, sedangkan Arabian Meal.. Ia akan memasuki tahun kedua setelah kami sepakat untuk menyerah.

..

Membaca pertanyaan itu tentu saja Arabian Meal kembali terkenang. Masih tergambar jelas bagaimana Arabian Meal "dilahirkan", dijalankan, sampai dipertahankan setengah mati di enam bulan pertama dan setengah mati di enam bulan kedua. Setengah tambah setengah, akhirnya matilah dia.

Ada sesuatu (bukan mengikuti tren bahasa saat ini) yang saya rasakan setiap menceritakan Arabian Meal. Sejujurnya, sesuatu yang kurang saya senangi.

Pernah juga sekali hal ini terjadi sebelumnya. Ketika itu saya menjadi salah satu pembicara di sebuah kampus di Bandung. MC yang berniat baik mencairkan suasana dengan melakukan tanya jawab singkat dengan saya, entah mendapatkan informasi dari mana, bertanya, "Jadi Mba Nadya, bagaimana kabar Arabian Meal?"

Saya ingat mulut saya bergerak-gerak beberapa detik kemudian, tapi entah apa kata-kata yang keluar. Saya lupa.

Kegagalan di masa lalu itu bukan untuk diungkit. Begitu pikir saya. Setidaknya, begitu pikir saya sampai empat hari yang lalu.

Hari Kamis kemarin, saya bertemu dengan seorang wanita WNI yang berkarir di Singapore dan memiliki hati yang sangat mulia, saya memanggilnya mba Andriani. Bersama 14 temannya, beliau membuat sebuah inisiatif agar tetap bisa berkontribusi untuk Indonesia. Benar kata Yuza (di postingan saya sebelumnya).

Detail mengenai insiatif ini akan saya ceritakan lebih lanjut nanti. Yang ingin saya ceritakan kali ini adalah salah satu perbincangan kami dan dua orang teman ketika kami bertemu. Mba Andriani memulai pertanyaan ini,

"Apa yang menjadi hambatan terbesar dalam memulai usaha?"

Salah satu teman saya menjawab, "modal". Selanjutnya dia memberikan penjelasan singkat bagaimana usahanya akan berkembang jika ia memiliki modal yang cukup.

Mba Andriani kembali bertanya,

"kalau dibalik pertanyaanya, apakah dengan adanya modal atau sebut saja uang akan menjamin usahamu berhasil?"

Mba Andriani melanjutkan pertanyaan itu dengan sebuah cerita tentang seorang guru yang terbiasa menggunakan fasilitas yang canggih ketika mengajar. Suatu hari ia pergi ke daerah yang miskin di mana fasilitas-fasilitas yang biasa ia gunakan tidak ada. Pun jika ada, rasanya anak-anak yang diajar tidak akan bisa mengoperasikan alat-alat tersebut. Alhasil ia menggunakan semua benda atau alat yang ia temui di mana saja sebagai peraga untuk membantunya mengajar; tanah, batu, dsb.

Ia pun akhirnya berkesimpulan bahwa untuk menjadi guru yang baik tidak dibutuhkan alat yang canggih untuk mengajar, melainkan kesediaan si guru tersebut untuk bisa memanfaatkan segala apa yang ada.

Tentu saja mba Andriani berusaha menghubungkan cerita tersebut dengan pertanyaan sebelumnya. Saya pun menghubungkannya dengan pengalaman saya sendiri.

Arabian Meal dan Wangsa Jelita dilahirkan bersamaan, akan tetapi dibesarkan dengan cara yang berbeda. Ketika itu kami (para orang tua :p) berpendapat bahwa Arabian Meal memiliki potensi untuk bekembang lebih cepat, sehingga rencananya, kami akan menggunakan keuntungan yang kami hasilkan (nanti) untuk melakukan penelitian di Wangsa Jelita.

Kembali ke pertanyaan mba Andriani, apakah modal/jumlahnya uang merupakan syarat utama kesuksesan suatu usaha? Tentu saja jawaban saya dan dua sahabat saya adalah tidak.

Wangsa Jelita dibesarkan dengan modal yang bernominal 7 digit rupiah, jauh lebih sedikit dibandingkan Arabian Meal yang dibesarkan dengan modal 8 digit rupiah, lebih dari 10x modal Wangsa Jelita.

Dalam perkembangannya, Wangsa Jelita berjalan sedikit-sedikit. Di tahun pertama kami menggunakan alat-alat yang sederhana, mengerjakannya di kamar salah satu teman saya, dan menghasilan bentuk sabun yang penyok sana-sini, maklum ketika itu belum mampu membeli cetakan yang cukup bagus. Tapi namanya orang tua, kurangnya anak tetap dilebihkan.

"bentuknya bukan penyok-penyok, tapi eksotis," berusaha meyakinkan setiap orang yang melihatnya (juga berusaha meyakinkan diri sendiri).

Sedangkan dalam membesarkan Arabian Meal, dengan modal yang cukup besar, kami mampu membeli alat-alat yang cukup keren dan menggaji dua pegawai. Aduhai rasanya. Sayang aduhai dan kerennya hanya bertahan satu tahun. Seperti gagal membesarkan anak, rasanya sedih bukan main ketika kami memutuskan untuk berhenti.

Saya sedih sekali kalau harus menceritakan tentang Arabian Meal. Sampai akhirnya bertemu dengan mba Andriani empat hari yang lalu. Ternyata walaupun sedih, cerita ini ada manfaatnya.

Setidaknya dengan cerita Arabian Meal, saya bisa memberikan contoh yang baik untuk membuktikan bahwa bukan besarnya modal yang menentukan kesuksesan suatu usaha. Kalau bahasa sahabat saya, "Bukan 'dengan apa kita memulai', tetapi 'bagaimana kita memulai dan memanfaatkan apa yang kita punya' yang akan menentukan hasil akhirnya".

Ternyata menceritakan Arabian Meal tidak membuat saya sedih seperti dulu lagi :)

Dengan bangga,












..

"So what I think I can do today, that best thing I can give you. I've given you my story, which is the best I can do,"

my inspiration, one of my favorite women in this world, Jessica Jackley.