Jan 8, 2011

Belajar dari keponakan: marah dan mengkritik

Dari KBBI online,

kri·tik n kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk thd suatu hasil karya, pendapat, dsb;

ma·rah a sangat tidak senang (krn dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dsb);

Apakah memberikan kritik dan marah itu baik? Bisa ya. Bisa juga tidak.

Pengertian tentang baik saya dapatkan dari salah satu guru saya, "kebaikan adalah kebenaran yang disampaikan dengan santun"

Kebenaran sendiri berhubungan dengan hal-hal yang sudah jelas batasannya. Sesuai dengan aturan itu "benar", tidak sesuai dengan aturan itu "salah". Kalau dikaitkan dengan agama, benar itu adalah hal yang sesuai dengan perintah agama, dan sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan santun?

...

Saya punya dua keponakan kembar yang sedang lucu-lucunya, Rafi dan Rasyid namanya. Coba lihat foto di bawah ini, gemesyyy yaa? =D







Yang perutnya seperti bola dengan gaya baju masuk itu namanya Rafi. Sedangkan yang sedang bergaya seperti James Bond di foto kedua itu namanya Rasyid. Mereka adalah dua guru (berperut) besar (yang terlihat seperti anak kecil) untuk saya. Bulan Juni 2011 ini InshaAllah mereka 5 tahun. InshaAllah juga jadi pria-pria yang hebat nantinya. Amin.

Kedua keponakan saya ini anak-anak yang cerdas. Sangat cerdas. Tetapi bukan anak-anak namanya kalau tidak nakal.

Rasyid misalnya, sangat sulit untuk mengontrol emosinya. Kalau sudah sebal dengan sesuatu atau seseorang, tangannya gampang sekali melayang (badannya sebesar itu, lumayan banget kalau kena =p). Lain dengan Rafi yang paling ahli bersilat lidah. Perlu super hati-hati berbicara dengan Rafi karena dia cepat sekali menangkap dan meniru.

Singkat cerita, dari mereka saya tau hanya ada dua alasan baik untuk marah dan mengkritik, pertama karena tersakiti dan kedua karena peduli.

Rafi, keponakan saya tadi, senang sekali mengganggu kembarannya dengan silat lidahnya. "Iiii.. Asyid (begitu panggilan Rasyid di rumah) minumnya masih banyaaaak, Afi udah habis, hore menaaaang," dan kalau belum puas Rafi akan melanjutkan "menang menaaaang.. Menang menaaaaaaang," dan bisa semakin menjadi-jadi "Asyid kalaah, Afi menaaaang, weeeek," terus begitu sampai akhirnya Rasyid siap-siap selayang tangan.

Kalau sudah begitu saya tidak akan melarang Rasyid untuk marah, yang saya larang adalah kalau dia mau memukul. Terakhir kali saya lihat mereka mau bertengkar, Alhamdulillah Rasyid sudah lebih pintar, "Udah Fi, Asyid marah ni!" Aih, ngewiii.. Gemesyyy!! Marah karena tersakiti dan untuk membela diri, itu harus dilakukan.

Lalu bagaimana caranya agar marah dan mengkritik ini disampaikan dengan santun? Ini yang saya pelajari dari mereka.

Mengingat mereka sangat cepat menangkap dan meniru semua yang mereka dengar. Saya sangat berhati-hati dalam berbicara, terutama sekali ketika saya sedang memarahi mereka.

Yang pertama, saya tidak akan menggunakan kata-kata yang saya sendiri tidak ingin mereka mengucapkannya. Kata-kata kasar dan tidak pantas, apalagi nama-nama binatang (yang kena marah keponakan kok nama binatang yang dipanggil =p) saya pastikan tidak akan terdengar oleh mereka. Dua keponakan saya adalah peniru yang hebat, saya harus pastikan mereka meniru hal-hal yang baik.

Lalu yang kedua, saya selalu berusaha untuk mengingat ini, "Most of children build on what you tell them," semua kata negatif yang bersifat merendahkan, menghina, dan membuat mereka sedih juga tidak boleh mereka dengar. Mereka sangat mempercayai saya, dan saya tidak ingin mereka mempercayai hal buruk tentang mereka dari saya.

...

Awal tahun ini, saya menerima banyak ucapan selamat tahun baru, beberapa dengan doa, harapan, dan ada juga yang memberikan tips. Ini adalah salah satu tips yang paling saya ingat, "Spend your time with people over 70 and under the age of 6"

Saya sempat heran, memangnya ada apa dengan usia di atas 70 dan di bawah 6 tahun? Saya akhirnya mengerti bahwa dari mereka lah kita belajar banyak tentang kasih sayang, kesabaran dan terutama untuk berlaku sopan juga santun.

Semoga ke depan nanti kita bisa banyak belajar dari mereka untuk menjadi lebih santun. Jangan sampai kemarahan atau kritik yang benar adanya menjadi tidak baik sifatnya karena kesalahan proses penyampaian. Dan yang paling penting jangan sampai anak-anak atau keponakan-keponakan kita nanti tidak mengerti yang mana yang benar dan yang salah hanya karena tidak santunnya bahasa yang kita gunakan.

Seperti kata Gandhi, "Jika kita menginginkan perubahan, jadilah perubahan yang kita inginkan," kita bisa memulai ini dari diri sendiri, dan semoga nanti bisa menjadi contoh untuk yang lain.