Jan 2, 2011

2011: "Mau ke mana?"

Kemarin saya bertemu dengan salah satu sahabat saya. Sahabat saya ini sudah bekerja selama kurang lebih satu tahun di salah satu perusahaan konsultan terbaik, ehm.. Di dunia.

Walaupun terbilang pegawai baru, bolak balik ke Singapore, menginap di hotel bintang lima, makan siang di restoran mahbal sudah menjadi hal yang biasa dia lakukan hampir setiap minggu. Kalau ada yang bilang betapa menyenangkan hidupnya, dia selalu menjawab, “gratis kok, dibayarin kantor..” Asoy.

Di saat yang sama, dia juga sedang membantu temannya (teman saya juga) yang sedang membangun sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Sahabat saya ini memiliki sebagian saham di perusahaan tersebut dan menjabat sebagai “Business Director”. Sengaja saya beri tanda kutip karena sebenarnya ia tidak bekerja full time di sana.

Berkaitan dengan kabar terbaru sahabat saya tadi, saya jadi ingat suatu hal. Sering saya mendengar teman-teman saya bercerita, “gue pingin punya usaha sendiri deh Nad”

Dan saya selalu menjawab “iyaa, bikin aja”

Beberapa dari mereka ada yang melanjutkan, “tapi gak tau mau usaha apa..”

“….”

Kalau begitu sudah susah untuk ditanggapi. Ibarat ada yang bilang “iyaa, gue mau pergi nii.. Tapi gak tau mau ke mana”

Rasanya pingin menjawab “ke laut aja” tapi kok seperti bicara ke cewe matre “cewe matre cewe matre, ke laut aje” *gakjelas.com*. Biasanya kalau sudah begitu saya cuma bisa senyum dan jawab “semoga segera diberi petunjuk yaa, mau ke mana..” =p

Lain cerita dengan sahabat saya ini dan sebagian teman saya yang lain, dia sudah tau usaha apa yang ingin dia kerjakan. Dia hanya sedang kebingungan antara dua pilihan, meninggalkan pekerjaannya yang sudah memberikan penghasilan tetap yang sangat (sangat sangat lebih dari) cukup atau bekerja penuh untuk membangun perusahaan IT bersama dengan temannya tadi.

Lalu saya ceritakan kepadanya salah satu cerita saya yang saya dapatkan di awal tahun 2010.



Di sebuah kelas kecil, kurang dari 20 orang di dalamnya, berbagai macam orang dengan latar belakang berkumpul dengan satu tujuan, mentoring bisnis. Dari pengusaha ayam organik sampai desainer, konsultan sampai mahasiswa S2 jurusan manajemen bisnis (termasuk pengusaha sabun, ohoho), semua hadir di sana.

Berlokasi di sebuah gedung, di daerah Sudirman di Jakarta, milik pengusaha minyak dan gas nasional, yang juga merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia di tahun 2010 versi majalah Forbes, acara tersebut berlangsung selama satu hari penuh. Saya beruntung ketika itu saya mendapatkan undangan dari seorang kenalan yang kebetulan mengadakan acara itu sehingga saya datang tanpa harus mengeluarkan biaya (dengan bilangan 7 digit) *fufufu*.

Ketika itu usaha saya dan dua teman sudah berjalan satu tahun. Kami bergerak tanpa modal, dan sangat beruntung karena mendapatkan pendanaan melalui lomba Program Mahasiswa Wirausaha ITB. Pemasukan sudah ada, sebagian kami gunakan kembali untuk modal, sebagian lagi dialokasikan untuk penelitian lebih lanjut. Untuk gaji kami? Biarlah nanti dulu. Ibarat ibu yang mengandung, biarkan saja nutrisi (keuntungan) diserap oleh calon bayi (perusahaan). Hehehe.

Sejak saya lulus kuliah Apoteker, saya sudah mulai membiayai sendiri semua kebutuhan sehari-hari. Menggantungkan keadaan ekonomi kepada perusahaan bukan ide yang baik karena ketika itu perusahaan sedang menggantungkan diri kepada saya dan teman-teman. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mencari sumber penghasilan lain. Hampir semua kesempatan ketika itu saya ambil (selama tidak bertentangan dengan prinsip dan tidak menganggu kepentingan perusahaan). Kurang lebih ada lima hal yang saya tangani dalam satu waktu.

Singkat cerita, salah satu peserta mengajukan sebuah pertanyaan kepada sang mentor yang mengubah hidup saya selanjutnya.

“Saya ini bisa melakukan banyak hal. Saya bisa melukis, dan lukisan saya dibeli dengan harga yang mahal. Saya bisa mendesain dan menjahit, dan saya tidak pernah kehabisan pesanan. Masih banyak lagi yang bisa saya lakukan dan saya senang melakukan semuanya. Pertanyaan saya, bagaimana caranya agar saya bisa mengatur waktu dengan baik?”

Alis naik, mata melotot, nyengir lebar, hidung kembang kempis.. Mbak yang bertanya ini seperti bisa membaca pikiran saya saja. Saya senyum-senyum tidak sabar mendengar jawaban dari sang mentor sampai akhirnya dia bilang,

“Memang mau ke mana?”

*EH?!!

“Lima tahun lagi atau sepuluh, dua puluh tahun lagi.. Kita mau ke mana? Kita mau diingat sebagai apa?”

*sepertinya saya pernah dengar pertanyaan ini, entah di mana..

“Anda mungkin bisa melakukan banyak hal, tapi apa anda mau dikenal sebagai orang yang bisa melakukan banyak hal? Atau anda mau dikenal sebagai seorang yang ahli? Kalau saya menyebut nama anda kepada teman saya, anda mau saya menceritakan dia tentang anda dengan embel-embel apa?”

Diceritakan selanjutnya, adalah hal yang biasa ketika seseorang berusaha mengambil semua kesempatan atau peluang yang ada di hadapannya. Ia tambahkan pula bahwa tidak mungkin seseorang menjadi ahli di berbagai bidang, dan mengerjakan dua atau lebih pekerjaan sekaligus bukan lah hal yang bijaksana. Mendengar itu seperti ditampar bolak-balik atas-bawah rasanya.

Setelah mendengar pernyataan itu, saya putuskan hal apa yang akan saya tekuni. Saya tinggalkan hal-hal yang tidak berhubungan dan tidak mendukung tujuan besar saya. Untuk pertamanya tidak mudah, dan beberapa kali saya diuji akan keputusan saya.

Saya hubungi beberapa teman (atau lebih tepat disebut partner kerja) dan saya sampaikan keputusan saya untuk mundur. Sampai akhirnya saya mengerjakan apa yang saat ini saya kerjakan. Beberapa teman mendukung, beberapa teman kecewa dengan keputusan saya, tapi Alhamdulillah, itu merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Saya bersyukur luar biasa.. :)



Mendengar cerita itu sahabat saya tersenyum, dia bertanya apa saya mendukung jika dia berwirausaha, saya jawab apa pun pilihannya saya pasti akan mendukung.

Tidak semua pilihan baik untuk semua orang, jika dia memilih untuk tetap bekerja di tempat ia bekerja sekarang, mungkin memang itu yang terbaik untuknya. Saya setuju dengan apa yang dikatakan mentor saya tadi, apa yang kita kerjakan saat ini adalah bekal “embel-embel” yang akan diberikan orang lain kepada kita lima atau sepuluh tahun lagi.

Karena saya membayangkan diri saya akan menjadi seorang ibu *cihuy*, saya berusaha melihatnya dari perspektif seperti ini, apa yang saya kerjakan saat ini akan menjadi cerita yang saya berikan dengan bangga untuk anak-anak saya nanti :)

Sahabat saya belum memberi tahu apa keputusannya. Saya selalu berdoa semoga dia mendapatkan yang terbaik.

Anyway..
Selamat tahun baru ya semua, semoga di tahun 2011 ini, semakin banyak cerita-cerita baik yang kita siap bagikan nanti.